' src='http://scmplayer.net/script.js' type='text/javascript'/> expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 21 Mei 2016

GUGATAN LOIS TERHADAP NEW LOIS

(TUGAS KASUS HKI)

Pemegang lisensi merek dagang Lois, PT Intigarmindo Persada mengajukan gugatan pembatalan merek Newlois dan Redlois. Kedua merek tersebut dianggap memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek Lois milik Lois Trade Mark-Consultores E Servicos S.A.
Lois adalah merek dagang yang digunakan untuk produk celana dan jaket berbahan jeans. Lois Trade Mark-Consultores E Servicos S.A merupakan perusahaan asal Spanyol yang mendaftarkan merek Lois terlebih dahulu di Indonesia, yakni pada 8 November 2004 dengan No. IDM000020831.
Merek tersebut masuk dalam daftar merek untuk kelas 25 yang melindungi barang jenis pakaian luar dan pakaian dalam, alas kaki, dan tutup kepala.
Sebagai pemegang lisensi Lois di Indonesia, Intigarmindo Persada yang diwakili kuasa hukumnya Harris Priyono Nainggolan merasa berhak mengajukan gugatan.
“Sebagai penerima lisensi dan pemegang kuasa dari Lois Trade Mark-Consultores E Servicos S.A, maka penggugat diberikan hak untuk melakukan setiap langkah hukum yang diperlukan atas produk palsu atau tiruan di Indonesia,” tulis Harris seperti dikutip dari berkas gugatannya, Minggu (14/2/2016).
Dia mengemukakan, gugatan ini bermula dari ditemukannya produk celana dengan merek Newlois dan Redlois di Toko Gerimis di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat miliki Agus Salim pada 15-18 April 2015.
Intigarmindo Persada kemudian membuat laporan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) untuk menindaklanjuti dugaan tindak pidana merek. Penyidikan terkait dengan saksi, ahli, dan barang bukti pun dilakukan.
Dirjen KI kemudian memutuskan untuk menghentikannya dengan alasan tidak ditemukannya tindak pidana merek. Lembaga yang berwenang atas perlindungan merek di Indonesia itu malah menemukan bukti adanya pendaftaran hak cipta milik Agus. Sehingga, merek Newlois dan Redlois mendapat perlindungan hukum.
Kedua merek milik Agus itu sudah terdaftar di sejak 28 Juli 2005 dengan nomor pendaftaran IDM000043020 dan IDM000043201. Dalam perkara ini, Intigarmindo Persada turut menyertakan Dirjan KI sebagai turut tergugat.
Penggugat menilai pendaftaran merek Newlois dan Redlois itu didaftarkan dengan iktikad tidak baik dengan membonceng, meniru atau menjiplak merek Lois.
Apalagi merek Lois milik Lois Trade Mark-Consultores E Servicos S.A diajukan terlebih dahulu, yaitu pada 12 Mei 2003. Sedangkan Agus baru mengajukan permohonan merek pada 28 Juli 2005.
Harris menambahkan merek Lois tak hanya terdaftar di Indonesia, namun juga telah terdaftar di berbagai negara seperti, Argentina, Arab Saudi, Chili, Filipina, Hong Kong, Malaysia, dan Taiwan.
Dalam petitumnya, Intigarmindo Persada meminta kepada majelis hakim untuk membatalkan merek Newlois dan Redlois milik Agus Salim karena memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek Lois milik Lois Trade Mark-Consultores E Servicos S.A.
Berdasarkan informasi dari Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, perkara ini baru memasuki persidangan perdana pada Selasa 9 Februari 2016. Saat itu baik Agus Salim maupun perwakilannya tak hadir. Majelis menunda persidangan hingga Selasa pekan ini.

 http://startuphki.com/gugatan-lois-terhadap-newlois/
Sumber: bisnis.com
Gambar : rookeroke.com

SIMBOL SIMBOL DALAM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HKI)

Kekayaan Intelektual atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Milik Intelektual adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR) atau Geistiges Eigentum, dalam bahasa Jermannya. Istilah atau terminologi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1790. Adalah Fichte yang pada tahun 1793 mengatakan tentang hak milik dari si pencipta ada pada bukunya. Yang dimaksud dengan hak milik disini bukan buku sebagai benda, tetapi buku dalam pengertian isinya. Istilah HKI terdiri dari tiga kata kunci, yaitu Hak, Kekayaan, dan Intelektual. Kekayaan merupakan abstraksi yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijual. (https://id.wikipedia.org/wiki/Kekayaan_intelektual)


Simbol – simbol dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
1.                  Simbol © 


kepanjangan dari copyright artinya Hak Cipta, merupakan logo yang digunakan dalam lingkup cipta dengan kata lain karya tersebut orisinil. Pengunanaan simbol © dapat digunakan walaupun karya tersebut tidak dapat dibuktikan dengan sertifikat hak cipta, karena perlindungan hak cipta bersifat otomatis (automathic right), namun adanya sertifikat hak cipta dapat menjadi bukti formil dimata penegak hukum.

2.                  Simbol ® 

Merupakan kepanjangan dari Registered Merk artinya merek terdaftar. Merek- Merek yang menggunakan simbol tersebut mempunyai arti bahwa merek tersebut telah terdaftar dalam Daftar Umum Merek yang dibuktikan dengan terbitnya sertifikat merek.

3.                  Simbol TM

merupakan kepanjangan dari Trade Mark artinya Merek Dagang. Simbol TM biasanya digunakan orang untuk mengindikasikan bahwa merek dagang tersebut masih dalam proses. Baik proses pengajuan di kantor merek ataupun proses perpanjangan karena jangwa waktu perlindungan (10tahun) yang hampir habis (expired). *Namun bagi negara-negara yang menganut sistem merek “first in use” seperti Amerika Serikat tanda ™ berarti merek tersebut telah digunakan dan dimiliki

4.                  SM (Servicemark / SM)

Untuk merek layanan yang belum terdaftar, yaitu sebuah tanda yang digunakan untuk mempromosikan servis dari suatu layanan, jadi yang di tandai adalah proses pengiklanan dari suatu layanan bukan kepada desain kemasan dari layanan tersebut. Layanan transportasi dapat meletakkan simbol TM tersebut pada kendaraan mereka, seperti pesawat, atau bis. Layanan personal dapat meletakkannya pada kendaraan pengangkut mereka seperti truk, atau mobil van.

Tetapi apabila layanannya berkaitan dengan telekomunikasi, sangat mungkin sebuah suara di tandai dengan simbol SM (tanda suara) saat proses penyampaian layanan tersebut. Contohnya AT&T, yang menggunakan nada sambung suara wanita yang menyebutkan nama perusahaan untuk menjelaskan layanan mereka, dan MGM yang menggunakan suara auman singa untuk film-film mereka.